Ada seorang reseller yang juga teman dekat kami, meminta agar dilakukan review komparatif produk clodi. Dan saya melakukan untuknya, tetapi semoga juga bisa menjadi referensi bermanfaat bagi para pemerhati cloth diapers lainnya. Silakan disimak.
REVIEW KOMPARATIF CLOTH DIAPERS
Komitmen Personal
Terima kasih mbak Nurul atas atensinya untuk menguji produk kami. Sebelumnya perlu saya sampaikan dulu di awal, bahwa meskipun saya memberikan priviledge kepada mbak Nurul, bukan berarti kami minta diistimewakan dalam evaluasi personal yang mbak Nurul lakukan.
Kami sangat ingin dikomparasi secara fair dan objektif, oleh semua pihak yang menjadi pengguna clodi lainnya. Namun sungguh sangat disayangkan, kepedulian terhadap clodi ini sebagai alternatif yang ramah lingkungan, memberikan efek toilet training dan ekonomis, baru terbatas di lingkungan ibu-ibu menengah ke atas saja, termasuk mbak Nurul, jadi pada umumnya asumsi dan opini yang terbentuk masih bias ke arah apresiasi terhadap harga ("semakin mahal semakin bagus") dan kecantikan fashion-nya saja, bukan pada point-point yang fungsional dan tepat sasaran.
Kesalahan Paradigmatik di Dunia Clodi
Kami sendiri sudah lama mempunyai laboratorium kecil untuk membandingkan kualitas banyak merek clodi, seperti yang ada di situs mbak Nurul. Tetapi secara etika, sebagai produsen, tidaklah tepat bila review kami itu langsung kami publikasikan. Dari penelitian kami, banyak sekali fitur clodi yang hanya cantik dan menarik pada tampilan pertamanya saja, tapi membuat kecewa penggunanya setelah dilakukan pemakaian harian. Akibatnya apa? Akibatnya clodi tetap dianggap alternatif pengganti yang tidak pernah mencukupi dan memberi kepuasan bagi pampers dan sejenisnya, dan hanya akan digunakan di kala-kala tertentu saja.
Dilematis memang, jika kita menuntut pada sebuah produk yang diharapkan mampu berfungsi sedemikian kompleks: mampu menyerap air dengan cepat dan tetap kering di permukaan, menyimpan air dalam waktu lama di bagian dalam dan menahan dari kebocoran di bagian luarnya, tetapi pada saat yang bersamaan, kita mengharapkan dia bisa menarik juga secara fashion. Istri saya sering berseloroh, celana dalam saja kok ya dipamer-pamerkan kecantikannya. Buat apa? Yang penting dia berfungsi secara maksimal kan? Dan kami sangat jelas melihat, bahwa di sanalah asal muasal terjadinya ketidakobjektifan itu! Produk yang cantik penampilannya, diprasangkai bahwa ia akan bekerja "secantik" penampilannya, dan sebaliknya, yang kurang cantik juga kurang berfungsi.
Kesalahan paradigmatik yang kedua adalah membandingkan antara sebuah clodi dengan clodi yang lain, hanya semata-mata dari bahan-bahan kain yang digunakan saja. Itu jelas tidak salah. Tapi itu baru setengahnya saja dari khazanah clodi ini. Separuhnya lagi, dan itu yang sangat membedakan antara satu dengan yang lain, adalah desainnya. Mbak Nurul bisa perhatikan, kalau ada suatu pameran busana, orang-orang akan selalu bertanya, siapa perancang busana ini dan itu, dan sangat sedikit yang bertanya, busana ini dari bahan batik atau dari kain lurik. Mengapa demikian? Karena semua orang juga tahu, sebagus apapun kain, di tangan orang yang salah, dia cuma akan jadi "onggokan jahitan" saja, sedangkan sebaliknya, di tangan orang yang benar, seburuk apapun kain, akan bisa disulap menjadi busana yang bermanfaat. Itu bukan teori. Itu dibuktikan pada banyak acara peragaan busana.
Seputar Desain Clodi
Berkaitan dengan desain, saya harus jujur katakan, bahwa hampir semua, kalau tidak malah semuanya, clodi yang mbak telah review di situs mbak itu, termasuk dalam kategori "gagal desain". Mengapa demikian? Karena tujuan utama dari pembuatan clodi itu adalah mengatur aliran air sehingga secara optimal terserap ke seluruh bagian clodi dan hampir zero percent yang meluber ke luar. Tujuan itu jelas sangat-sangat sulit dicapai, sekalipun ditemukan bahan secanggih apapun juga, karena menentang hukum-hukum fisika dalam aliran air. Ketika air mengalir, ia akan bergerak ke bawah, dan selanjutnya bergerak mendatar mencari semua celah untuk bisa keluar. Kebanyakan clodi, hingga kini, didesain dengan model perekat, dilengkapi insert di dalamnya, dimana permukaan inner-nya datar saja, tanpa lekukan atau cekungan. Akibatnya adalah, ketika bayi pee, urinnya akan bergerak ke bawah lalu ke samping, menerobos ke luar melalui lingkar paha. Debit pee yang tinggi, sejalan dengan pertumbuhan usia anak, tidak akan mampu diserap seketika oleh kain yang canggih itu, sehingga pasti akan luber dalam sekali atau dua kali pipis saja. Dalam kasus yang lebih ekstrim, ada beberapa jenis clodi, ceperti Coolababy, yang menganut sistem kain luar breathable, sehingga kebocoran cairan itu lebih parah lagi, tidak hanya melalui lingkar paha, tetapi juga langsung merembes melalui kain luar itu sendiri!
Sementara masyarakat Barat masih mentolerir kebocoran clodi, masyarakat kita yang mayoritas muslim lebih tidak kompromi terhadap hal itu! Bocornya urin dari anak yang sudah tidak full ASI adalah najis dan harus sebisa mungkin dihindari. Ditinjau dari sisi itu, penerimaan clodi di masyarakat kita juga akan sangat lambat!
Desain Ananndapers adalah sebuah jawaban langsung dari pameo "the devil is in the detail". Bahwa air yang ternyata susah ditaklukkan dengan penyerapan kain biasa itu, direkayasa alirannya melalui sistem lidah, yang menjulur hingga ke bagian bawah clodi, dimana terbentuk cekungan mirip danau di bagian bawah lingkar paha. Untuk merekayasa sebuah danau di dasar innernya, maka desain Ananndapers sangat tidak konvensional, penuh kerutan di sekujur sisinya, sehingga air benar-benar tidak mempunyai kesempatan menggunakan energi jatuhnya untuk bergerak melebar dan menjangkau lingkar paha. Kain insert dalam bentuk lidah juga sebuah solusi besar bagi para pengguna clodi yang mendambakan kepraktisan disposable diapers, karena dengan memisahkan clodi dari insert-nya berarti menambahkan beban pekerjaan bagi pengguna diapers untuk mencuci dan memasangnya kembali. Semua juga memahami bahwa clodi yang sudah terkena pee, apalagi pup, tidak mungkin hanya diganti insert-nya saja tanpa dicuci clodinya terlebih dahulu karena kotoran tetap akan menyebar kemana-mana. Clodi dengan insert terpisah adalah pemborosan kerja yang sia-sia dan menyatukannya dalam sebuah desain adalah inovasi tersendiri.
Bila anak sudah mulai belajar merangkak dan berjalan, maka semua orang tua juga sepakat bahwa model pull up atau celana jauh lebih praktis dalam pemakaiannya dan tidak ada kekuatiran sama sekali perihal keketatan pemasangannya. Sebaliknya, pemakaian harian dari model snap (kancing) atau velcro (perekat) bagi anak-anak yang sudah mulai aktif, dimana-mana terbukti beresiko mengoyak atau merobek kain di sekeliling snap atau velcro tersebut dan membuatnya rusak hanya dalam jangka pemakaian rutin dua tiga bulan saja. Sekali lagi, semua perbedaan itu baru akan ditemukan bila kita melakukan observasi yang mendalam dan cukup lama. Kami melakukan hal itu sejak tahun 2002. Tidak ada sulitnya menjiplak desain yang sudah ada tapi hal itu sangat kami hindari. Oleh karenanya, dalam konsep kami, sistem velcro itu hanya tepat digunakan sampai bayi mulai belajar merangkak saja, yaitu sampai dengan usia sekitar 6 bulan.
Seputar Bahan Clodi
Kriteria utama bahan clodi adalah mencegah terjadinya ruam dan alergi kulit di permukaan, menyimpan air di bagian dalam serta anti tembus di bagian paling luarnya. Diskusi tentang hal ini tidak ada habisnya. Saya ingin membahas ini secara ringkas saja.
Di luar dugaan banyak orang, penyebab utama ruam dan alergi kulit itu bukan hanya pada basahnya permukaan clodi saja, tetapi juga tersumbatnya pembuluh keringat dan panas dari dalam tubuh oleh berlapis-lapis kain clodi yang sangat tebal. Ada beberapa jenis kain yang mempunyai keistimewaan sangat cepat kering di permukaan, seperti kain Suede, tapi karena kain tersebut 100% dipintal menjadi bulu dan hampir tidak memiliki serat, maka bulu-bulu kain Suede juga sangat potensial menutup pembuluh keringat mikroskopik di kulit kita. Bila keringat sulit keluar dari tubuh, maka kantung-kantung keringat di kulit menjadi sulit dikosongkan dan mudah menimbulkan ruam, atau istilah jawanya "keringet buntet". Dalam jangka panjang, ruam ini akan berdampak pada alergi kulit karena seringnya diekspos bahan seperti itu.
Oleh karenanya, bahan yang kontak dengan kulit bayi, mestilah dari jenis bahan yang tidak sekedar cepat kering saja, tapi yang lebih utama adalah "dingin" di kulit, atau bahasa kerennya "memudahkan kulit bernafas". Kriteria bahan seperti itu mesti berasal dari kain yang benangnya dominan katun, apakah dari jenis flannel ataupun terry. Konsep ini sering kali ditafsirkan secara keliru, karena orang malah mencari bahan breathable itu justru di bagian luarnya, seperti coolababy, bukan di bagian inner yang kontak dengan kulit!
Di bagian tengahnya, kita mencari bahan kain yang mudah menyimpan air, sebanyak apapun air ditumpahkan. Rajanya kain penyimpan air adalah mikrofiber, tidak ada yang lain. Kain mikrofiber paling maju di dunia berasal dari Korea dan dikembangkan untuk kebutuhan sangat khusus masyarakat Barat. Namun karena biaya produksi kain jenis ini dari waktu ke waktu terus menurun, maka kain ini pelan-pelan menjadi tidak eksklusif lagi. Kain ini istimewa, karena mampu "menggenggam air" dalam waktu sangat lama. Bahkan dalam riset kami, hingga sebulan pun air dalam volume yang sama masih mampu ditahan olehnya. Tapi sayang, semurah-murahnya kain ini, tetap saja harganya sangat mahal. Yang membuatnya menjadi mahal adalah sulitnya mem-finishing permukaan kain jenis ini. Sehingga untuk memperoleh hasil akhir permukaan yang standar, dibutuhkan pengerjaan mesin yang berat. Namun justru di situlah sebenarnya hal yang tidak perlu kita dapatkan dari kain ini. Biar permukaannya jelek, karena tanpa finishing atau bahkan "gagal produksi", dia tetap bisa berfungsi maksimal. Sejumlah pabrikan clodi memaksakan diri dengan membeli kain mikrofiber yang permukaannya di-finishing sempurna, sehingga harga clodi menjadi sangat mahal. Padahal fungsinya berada di tengah, tidak perlu terlihat, karena tidak kontak langsung dengan kulit. Coba perhatikan, kain lap pel sistem mop yang terbaru bermerek terkenal (seperti 3M) saat ini juga sudah menggunakan kain mikrofiber, tetapi dari jenis yang tidak di-finishing atau bahkan gagal produksi (second grade atau third grade). Dengan begitu, harga kain mikrofiber bisa ditekan sangat murah.
Saat ini kami menggunakan bahan kain mikrofiber tersebut untuk edisi extra serap dengan hanya menambahkan biaya sekitar tujuh ribu saja dibandingkan edisi biasa. Hal itu berhasil kami capai, dengan memanfaatkan kain mikrofiber second grade, yang kami letakkan di bagian dalam dari lidah tersebut. Bandingkan, untuk produk yang setara, sebuah clodi lokal, menjual hanya kain insert mikrofibernya saja dengan harga di atas 40 ribu rupiah, karena memanfaatkan kain dari jenis yang di-finishing. Dengan upaya yang kami tempuh ini peningkatan daya serapnya sudah sangat signifikan, dari semula sekitar 100 CC pada edisi biasa, menjadi sekitar 160 CC pada edisi extra serap. Lebih dari cukup untuk kebutuhan pemakaian clodi minimal sekitar empat jam. Dari sisi kebasahan di permukaan dalam pun, berhasil sangat berkurang dengan kehadiran kain ini. Pada kapasitas serap maksimumnya, edisi extra serap hanya terasa sedikit basah saja di kulit, namun tanpa menimbulkan jejak air sama sekali.
Di bagian terluar, hampir semua clodi bersepakat bahwa yang terbaik adalah penggunaan kain dari jenis waterproof seperti taslan berlatex dan sejenisnya. Hanya sedikit saja clodi, terutama dari luar, yang dengan sengaja memilih bahan breathable sehingga masih bisa bocor. Tetapi paradigma breathable ini jelas salah sasaran, karena yang harus breathable itu bukan di bagian luar clodi, tetapi di bagian dalam clodi yang kontak langsung dengan kulit. Bahan waterproof itu secara umum harus 100% terbebas dari plastik, dan cukup awet untuk diperlakukan secara bebas dengan semua standar pencucian, pengeringan, pemberian bahan kimia pemutih dan pengharum, serta setrika. Kriteria seperti ini sering kali tidak dimiliki oleh clodi impor karena mereka menerapkan sistem laundry terpisah dan profesional untuk produk-produknya. Tentu saja dalam jangka panjang, clodi-clodi yang memiliki banyak perkecualian dalam proses pencucian, baik oleh mesin cuci, mesin pengering, bahan kimia maupun setrika, akan dijauhi oleh kebanyakan orang tua di negara berkembang, yang tidak mempunyai banyak waktu dan dana untuk mengurusi pencucian pakaiannya. Tentang motif dan "penampilan cantik" dari sejumlah kain clodi, bisa diperoleh dengan melapis kain waterproof ini dengan kain bermotif sesuai yang diminati pasar. Tetapi untuk tujuan desain yang ingin kami capai, penambahan kain bermotif itu secara teknis tidak mungkin direalisasikan. Di Barat pun sebagian besar produsen clodi sudah sangat sadar bahwa produk yang mereka hasilkan semata-mata dicari orang karena fungsinya saja, bukan karena alasan-alasan fashion.
Rasionalitas Harga
Sampai hari ini, cloth diapers ini masih merupakan produk baru yang menyentuh sangat sedikit lapisan masyarakat kita. Mereka yang dengan segera bisa mengapresiasi fungsi-fungsinya, baik secara lingkungan, kesehatan, maupun ke-ekonomi-an, baru dari kalangan menengah ke atas yang sangat terpelajar, dan terbiasa melakukan self study melalui internet. Tentunya mereka ini sangat mengunggulkan kualitaas di atas segalanya, dan tidak sensitif terhadap harga. Meskipun mendewakan kualitas, tapi pengetahuan yang terbatas tentang jenis-jenis kain dan fungsinya, serta desain yang rumit dalam pembuatan clodi, akan mudah membuat mereka tersesat dalam "rimba informasi" yang sepotong-sepotong disana-sini. Bias informasi itulah yang dimanfaatkan produsen clodi untuk menjual produknya dengan harga mahal, sehingga clodi tidak kunjung merakyat juga hingga hari ini.
Bagi kami, cepat atau lambat, akhirnya cloth diapers akan menyapa rakyat jelata juga, yang berpikiran sederhana, dan mengukur segala sesuatu dari "kondisi kantungnya" dulu sebelum membandingkan yang lain. Di saat itulah, konsep Ananndapers ini akan diterima dan diikuti jejaknya oleh clodi lainnya, untuk memberi kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi para orang tua baru di Indonesia.